Anggap saja story telling itu julukan untuk jenis tulisan review dalam versi Bahasa Inggis.
Sotry telling adalah kemampuan menceritakan kembali sebuah kejadian, film atu pengalaman yang pernah di alami dan dikemas dalam cerita yang menarik. Story telling membutuhkan ekspresi gerakan mimik dan tubuh. Ketika situasi sedih maka mimik dan gerakan seharusnya juga menggambarkan kesedihan itu.
Lain lagi dengan Story Writing. Story Writing yang menarik, untuk selanjutnya kita sebut tulisan review, adalah bagaimana mengemas tulisan menjadi sebuah gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami. Tujuannya agar pembaca bisa memahami sebuah pesan yang disampaiakan dari tulisan itu.
Teori penulisan review cukup unik. Kalau story telling kita berhadap-hadapan dengan pendengar melalui tatap muka secara langsung atau tak langsung lewat intonasi suara, maka tulisan review hanya menggandalkan tulisan untuk berhadapan dengan pembaca.
Permasalahannnya disini, ketika EYD (ejaan yang disempurnakan) menjadi momok untuk membuat tulisan yang kreatif, para penulis kini lebih cendrung memilih gaya penulisan seperti berbincang-bincang. Setidaknya dengan menulis gaya seperti ini mereka akan mendapat banyak respond dari pembacanya.
Era dunia penulisan bisa saja berevolusi. Sebuah proposal, tulisan ilmiah, dan kumpulan laporan kegiatan tak lagi menggunkan EYD, tapi lebih cendrung menggunakan gaya penulisan berbincang-bincang.
Ya, saya menggangap terobosan pertama kali (gaya menulis berbicang-bincang) telah dilakukan oleh para Blogger. Sejak pertama kali Web Blog dikenal, posisi kepopularitasan sebuah Web tergantikan. Ini dikarenakan content tulisan Web terkesan kaku. Belum lagi di tambah pengelolaan Web yang membutuhkan kemampuan personal pemrograman web yang “njelimet” alias rumit.
Blog memudahkan pembaca untuk berinteraksi dua arah dengan penulis dan pembaca lainnya. Walaupun hal itu bisa dilakukan oleh Web (merancang komunikasi dua arah melalui box komentar pada setiap tulisan), tapi membutuhkan sebuah bahasa pemrograman yang sulit untuk merancangnya.
Maaf, tulisan ini bukan bermaksud merendahkan martabat “Si Tuan EYD”. Kita hanya berusaha membuat keakraban antara penulis dan pembaca terjadi. Keakraban merupakan salah satu cara penulis untuk menarik perhatian pembaca melalui tulisan.
Di internet manusia terwakilkan oleh tulisan. Apa dan bagaimana kemasan tulisan itu di buat, sehingga sesuai dengan tujuan yang diharapkan, menjadi tantangan baru bagi para penulis. Seperti pada gambar tulisan yang memeluk manusia di atas.
Gaya penulisan tulisan review bukanlah milik sang penulis ahli, berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang pernah saya rasakan, salah satu modal untuk membuat gaya penulisan story writing adalah membuat bagaimana tulisan kita berpihak kepada pembaca.
“Apa maksudnya?”
Tujuan kita membuat tulisan review adalah untuk lebih memperjelas keberadaan sebuah objek itu ada (produk, pengalaman atau kesuksesan). “Benar begitu?”
Nah, tak ada salahnya kita menambahkan sebuah tulisan yang seolah-olah dapat menerka masalah atau tujuan yang dihadapi oleh pembaca. Lalu akhiri dengan sebuah tulisan penutup yang menyampaiakan pesan mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah atau tujuan yang ingin dicapainya. Tapi ingat, semua itu harus berhubungan dengan tulisan review yang kita tulis.
Ketika tulisan review bukan lagi milik “sang penulis ahli” tentunya Anda ingin mencoba melakukan gaya penulisan seperti strory writing. Sejauh mana kemampuan Anda menulisnya bisa kita diskusikan bersama dalam postingan kali ini..
Selamat menulis..
Gambar : dari blog http://jokosusilo.com




{ 32 comments… read them below or add one }
Postingan yang menarik mas wawan, gaya penulisan memang penting untuk menggambarkan karakter panulis :)
-salam sukses-
Siapakah yang dimaksud dengan Si Tuan EYD
Dulu, sewaktu EYD masih jaya-jayanya, karakter dan strata intelegece seseorang bisa dilihat dari pemakaian EYD dalam tiap tulisannya. Tapi kini sepertinya bukan menjadi acuan lagi. Entah ini sebuah kemajuan atau kemunduran dalam pragmatik linguistik di Indonesia.
Sebuah pertanyaan mendasar dan simpel silakan dijawab oleh Mas Wawan?
Haruskah EYD dihapuskan saja? sekalian diberikan argumen.
Untuk story telling yang menjelma dalam story writing, sepertinya itu tidak terlalu terkait erat dengan EYD. Ada kondisi lingusitik tertentu yang menghendaki penggunaan EYD, Mas Wawan tentunya sangat tahu itu.
http://www.ziddu.com/download/3298263/Download_GRATIS_Uang_Panas_Haryo_Prabowo.rar.html
@Umar Puja Kesuma
Bagaimana dengan links yang ada dibawah komen saya? hehehe…tragisss!!!
mantap mas wawan tulisannya, memang bloging leb ih efektif dan interaktif dan membawa perubahan dalam era penulisan
o .. begitu ya mas. Saya setuju bahwa artikel harus berpihak kepada pembaca, dan harus kental dengan gaya kita sendiri. Tambahan, Mudah dicerna, sederhana dan komplit.. begitu nggak ya..he..he..
Blog Bisnis Online
iya betul mas… tapi ngomong2, mas Wawan dari mana ajah….
Dua kemampuan ini adalah basic skill kalau mau sukses memasarkan produk apapun di dua dunia mas. NIce post!
Salam Sukses,
Good Artikel Mas, Memang dalam menulis terutama untuk sebuah preview kita harus menggunakan unsur bahasa dan gaya penulisan yang friendly buat pembaca, Seolah-olah kita berbincang-bincang empat mata dan itu akan membuat kita lebih dekat dengan pembaca. Bukan begitu Mas Wawan..?
Salam kenal,
Handoko tantra
http://www.sohib-dika-bisnis.blogspot.com
http://www.aromawangi.co.cc
keduanya sangat penting…untuk story writing…rasanya tidak mungkin untuk memnuhi semua hasrat pembacanya…mungkin ada baiknya menulis dgn gaya bahasa sendiri….karena otulah diri kita yg sebenarnya…
salam…
Penentuan gaya tulisan, tergantung pada penulis dan tema apa yang akan disampaikan.
Info ini sangat membantu saya guna mempercantik penyampaian pesan saya disetiap postingan.
REKANBISNISKU | blog rekan bisnis
ngomong2 soal2 bakmi keriting.. saya jadi lapar.. wakakaka… (jaka sembung neh)
@Ricky Nova Pertanyaannya “gimana buat gaya menulis kan?
Sukses juga buat Mas ricky, Trimakasih kunjungannya
@Umar Puja Kesuma Saya lagsung jawab masalah hapus-menghapus ya Mas.
Begini, biarkan EYD itu ada. Itu juga jadi salah satu pelajaran sejarah tata bahasa. Copywriting lahir juga karena sebelumnya ada si EYD. Copywriting juga diminati karena “ke-kaku-an” EYD.
Story writing hanya istilah rekaan saya saja Mas. Saya sering salut sama pendongeng yang bercerita sampai anak-anak yang mendengarkan terduduk konsen.
Gimana? memuaskan?
@Umar Puja Kesuma Link yang mana Mas? Replay commment? kalau itu saya memang lagi bermasalah, saya instal ulang berkali-kali (wp-thread comment)masih eror juga.
@adi wardana Terimakasih kunjungannya Mas Adi..
@zams Sip. Masukan yang Bagus, Terimakasih..
@madhysta Masih di Jakarta kok Mas..lagi ada sedikit kerjaan. Lagi butuh duit cash cepat…Apa kabar Mas. Sory saya belum berkunjung ke blog Mas Mady lagi..
@Arief Maulana Setuju Mas. Dua kemampuan yang wajib di kuasai..
@Handoko Tantra Tepat Mas.. salam kenal juga Mas Handoko..
@Agung JAtnika Sip seperti Mas henky misalnya. dari komentar pendek, pada dan berisi orang sudah tau siapa yang berkomentar..Bukan begitu Mas Agung?
@rekanbisnisku Silahkan di praktekan Mas Fir..
@mashengky Lho kok bakmi kriting? Mana nih oleh-oleh dari lombok?
Salam kenal sebelumnya…salut nih..buat Oom Wawan yng bijaksana ngebahas seputar EYD, yg nggak bisa dipungkiri…masih dibutuhkan dalam estetika berbahasa
@MemeY
Trimakasih Mbak Memey. Tinggal gimana siasat kita menggunakannya..
Ini postingan yang perlu banget buat saya.
makasih
@ari
Terimakasih sudah berkunjung. Wah..Mas Ari penggemar iklan ya? Tapi saya susah berkomentar di blog Mas. Apa sengaja ditutup komentarnya? sayang lho Mas..Blog berjenis review iklan masih belum banyak.
Salam Mas Wawan..
wah tipsnya sangat bermanfaat mas Wawan.
memang mengenai skill penulisan, saya rasa para blogger sudah semestinya memperdalam secara periodik..
SALAM SUKSES = BLOG MOTIVASI MENTAL =
Nice work, keep it up. Cheers.
@Fadly Muin
Harus Mas. Walau blog pribadi bersifat suka-suka bagi pemiliknya, apa salahnya hasil tulisannya secara tidak langsung bisa mengibur pembaca..
mo ty neh…
aq ngangkat jdul skripsi soal developing students’ listening skill by using storytelling with picture for elementary school.
aq lagi bingung neh waktu dosen Q ty, penggolongan umur anak-anak berdasarkan story ap yg pntes u/ dia bc itu menurt pinnachiaro..
aq cr2 bku n DLL na g ktmu…
i do need yr help…
@indha, mba indha… beberapa bulan kedepan saya dihadapkan dengan skripsi. Nah, saya merencanakan akan membahas storytelling di SD (saya dari PGSD).
Oya kenalin saya Khaerul mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Maksudnya saya mau konsultasi atau sharing aja sama mba Indha yang kebetulan ternyata sedang membahas judul yang sama. kalau mba Indha tidak keberatan saya tunggu jawabannya di email saya khaerulumur@hotmail.com
Trimakasih banyak…
@khaerul, Smoga kerja samanya menyenangkan..
saya menggunakan Story teling untuk prensentasi jasa IT saya MAs..dan…, berhasil-berhasil..
{ 3 trackbacks }